Kamis, 11 Desember 2008

perbandingan michael jordan dengan kobe bryant...




Kobe Bryant sudah hampir mendapatkan segalanya di NBA. Cincin juara sudah punya tiga. Gelar Most Valuable Player juga sudah dapat. Sekarang, dia tinggal mengejar status legenda, ala Michael Jordan.

KOBE Bryant berumur 29 tahun. Di satu sisi, dia tergolong senior, telah berkutat di NBA selama 12 tahun. Dia juga sudah mengoleksi cukup banyak catatan sejarah. Misalnya, tiga gelar juara (2000, 2001, dan 2002), sepuluh kali masuk All-Star, plus dua kali terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) All-Star. Tahun ini, Bryant juga meraih gelar individual tertinggi. Dia terpilih sebagai MVP NBA 2007-2008.

Di luar itu semua, Bryant juga sudah dianggap sebagai pemain terbaik di NBA saat ini. Tidak ada pemain lain yang punya kemampuan mencetak poin sedahsyat sang "Black Mamba". Tidak ada pemain lain yang punya ambisi menang sebesar dia.

Dalam sejarah NBA, mungkin hanya Michael Jordan yang punya kedahsyatan (dan keindahan) bermain lebih dari seorang Kobe Bryant.

Memasuki NBA Finals 2008 yang lalu, orang pun mulai membanding-bandingkan Bryant dengan Jordan. Apakah kelak Bryant mampu mengalahkan legenda sang manusia terbang.

Dan setelah dipikir-pikir, sebenarnya Bryant punya peluang untuk melakukan itu.



Bagi Bryant, musim lalu benar-benar musimnya menunjukkan kematangan. Sebelum musim 2007-2008  dimulai, dia sebenarnya masih dianggap sebagai Bryant yang dulu. Bawel, arogan, bikin rekan-rekan (dan staf) Lakers selalu kepanasan.

Penggemar NBA mungkin ingat, sebelum musim 2007-2008 dimulai, Bryant sempat terekam ngomel-ngomel meledek rekan-rekan setim. Dia juga sempat menemui pemilik tim, Jerry Buss, minta ditukar ke tim lain.

Namun, begitu musim dimulai, Bryant menjadi pemain yang berbeda. Dia tidak lagi rakus bola, membantu rekan-rekan ikut berpartisipasi menumpuk kemenangan. Hasilnya sangat positif, Bryant mengantarkan Lakers menjadi ranking pertama di Wilayah Barat, dan mengantarkan tim itu lolos ke babak final musim 2007-2008.

Dari situ saja, Bryant berhasil mematahkan lagi satu keraguan terhadap dirinya. Ketika meraih juara pada 2000 hingga 2002, dia masih tenggelam di bawah bayang-bayang Shaquille O’Neal. Pada tiga final itu, O’Neal-lah yang mendapat gelar MVP Finals.

Hubungan keduanya pun tidak harmonis. Setelah Lakers kalah di final 2004 (di tangan Detroit Pistons), Bryant disebut sebagai pemicu perpecahan tim. O’Neal pindah ke Miami Heat, pelatih Phil Jackson sempat berhenti melatih.

Prestasi Lakers pun merosot. Reputasi Bryant memburuk. Orang bilang, Bryant tak mampu membawa Lakers ke puncak tanpa O’Neal. 

Sekarang, Bryant menjawab keraguan tersebut. Dia sudah menunjukkan kemampuan memimpin dan mengantarkan Lakers ke final. Rekan-rekannya pun merasa senang bersamanya. Derek Fisher, point guard senior Lakers, misalnya. Fisher bilang suasana tim sekarang jauh lebih menyenangkan daripada dulu.

"Dialah pemimpin tim ini. Saya merasa bangga melihatnya tumbuh dewasa dalam beberapa tahun terakhir. Dia telah melangkah jauh," kata Fisher.

Bahkan, O’Neal ikut memuji Bryant. "Dia telah melangkah begitu jauh. Saya senang untuk dia. Saya bangga padanya," ungkap O’Neal yang kini tergabung di Phoenix Suns.

Seandainya di NBA Finals 2008 lalu Lakers berhasil meraih juara, status Bryant akan meroket jauh lebih tinggi lagi. Apalagi kalau dia sampai terus tampil dahsyat, merebut gelar MVP Finals 2008. Posisinya bakal mendekati seorang Michael Jordan. Namun sayang, Lakers gagal. Dan Bryant harus menunda untuk menjadi seorang legenda sejati.

Bukan hanya itu, pada usia 29 tahun, Bryant masih punya waktu untuk kelak mengalahkan sejumlah prestasi Jordan. Pada 1990-an dulu, Jordan meraih gelar pertamanya pada usia 28 tahun. Ketika pensiun awal dekade ini, Jordan punya enam gelar.



Bryant mungkin masih punya sekitar lima tahun lagi sebelum kemampuannya dimakan usia. Dalam waktu lima tahun itu, andai tahun ini meraih cincin juara keempat, Bryant hanya butuh dua kali lagi juara untuk menyamai total gelar Jordan. Siapa tahu bisa lebih.

Lakers sendiri merupakan tim masa depan. Hampir semua pemain yang lain berusia lebih muda daripada Bryant, dan masih punya potensi untuk terus berkembang. Tim itu punya potensi lebih mengerikan dalam lima tahun ke depan!

Soal perbandingan dengan "His Airness" ini, Bryant tak mau membuat situasi makin tidak keruan. Dengan tegas, dia bilang tidak ingin dibanding-bandingkan dengan Michael Jordan. "Kita membicarakan pemain basket terbaik dalam sejarah. Michael adalah Michael," tegasnya. 

Larry Bird, mantan pemain legendaris Celtics, juga belum mau menyamakan Bryant dengan Jordan. "Saya pikir Kobe adalah pemain terbaik di liga ini. Dia sudah menjadi pemain terbaik selama beberapa tahun. Tapi, untuk bilang dia sama dengan Michael Jordan, saya tidak bisa melakukannya," kata Bird. 

Bryant dan Bird mungkin tidak mau membandingkan dan menyamakan. Tapi, kita tunggu saja lima tahun lagi. Siapa tahu, nama Bryant jauh lebih dahsyat daripada Jordan. Apalagi, generasi baru makin lama makin tak kenal Michael Jordan. Generasi itu akan lebih mengenal dan memuja seorang Kobe Bryant.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar